Selasa, 14 Mei 2013

Karakteristik matematika sekolah


BAB II
PEMBAHASAN

II.1. Karateristik Matematika Sekolah
Sehubungan dengan karakteristik umum matematika,dalam pelaksanaan pembelajaran matematika disekolah harus memperhatikan ruang lingkup matematika sekolah.Ada sedikit perbedaan antara matematika sebagai ilmu dengan matematika sekolah.Perbedaan itu dalam hal :
1.   Penyajian
Penyajian matematika tidak harus diawali dengan teorema maupun definisi,tetapi haruslah disesuaikan dengan perkembangan intelektual siswa.
2.   Pola pikir
Pembelajaran matematika sekolah dapat menggunakan pola pikir deduktif maupun pola pikir induktif.Hal ini harus disesuaikan dengan topik bahsan dan tingkat intelektual siswa.Sebagai kriteria umum,biasanya di SD menggunakan pendekatan induktif terlebih dahulu karena hal ini lebih memungkinkan siswa menangkap pengertian yang dimaksud.Sementara untuk SMP dan SMA,pola pikir deduktif sudah semakin ditekankan.Contoh-contoh yang disajikan sebelumnya juga menunjukkan contoh pola pikir yang digunakan disekolah.
3.   Semesta Pembicaraan
Sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa,maka matematika yang disajikan dalam jenjang pendidikan juga menyesuaikan dalam kekomplekan semestanya.Semakin meningkat tahap perkembangan intelektual siswa,maka semesta matematikanya semakin diperluas.
4.   Tingkat Keabstrakan
Seperti pada poin sebelumny,tingkat keabstrakan matematika juga harus menyesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual siswa.Di SD dimungkinkan untuk mengkongkretkan objek-objek matematika agar siswa lebih memahami pelajaran.Namun,semakin tinggi jenjang sekolah,tingkat keabstrakan objek semakin diperluas.
Berdasarkan hal tersebut di atas dalam pembelajaran matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa, dimulai dari yang konkrit menuju abstrak. Namun demikian meskipun obyek pembelajaran matematika adalah abstark, tetapi masih diperlukan pengalaman melalui obyek konkrit agar siswa mampu memahami konsep dan prinsip.Suatu konsep diangkat melalui manipulasi dan observasi terhadap obyek konkrit, kemudian dilakukan proses abstraksi dan idealisasi. Jadi dalam proses pembelajaran matematika peranan media/alat peraga sangat penting untuk pemahaman suatu konsep atau prinsip. Heinich., et al. (1996:21) mengemukakan “adaptation of media and specially designed mean can contribute enormously to effective instructional …”.Hal tersebut mengandung maksud bahwa media yang sesuai dan dirancang khusus akan dapat memberikan dukungan yang sangat besar terhadap efektifitas pembelajaran.
Pelaksanaan pembelajaran matematika juga dimulai dari yang sederhana ke kompleks. Menurut Karso (1993:124) matematika mempelajari tentang pola keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan. Konsep-konsep matematika tersusun secara hirarkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks.
Skemp (1971:36) menyatakan bahwa dalam belajar matematika meskipun kita telah membuat semua konsep itu menjadi baru dalam pikiran kita sendiri, kita hanya bisa melakukan semua ini dengan menggunakan konsep yang kita capai sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut dalam matematika terdapat topic atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya.
Dengan demikian dalam mempelajari matematika, konsep sebelumnya harus benar-benar dikuasai agar dapat memahami konsep-konsep selanjutnya. Hal ini tentu saja membawa akibat kepada bagaimana terjadinya proses belajar mengajar atau pembelajaran matematika. Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika tidak dapat dilakukan secara melompat-lompat tetapi harus tahap demi tahap, dimulai dengan pemahaman ide dan konsep yang sederhana sampai kejenjang yang lebih kompleks.
Seseorang tidak mungkin mempelajari konsep lebih tinggi sebelum ia menguasai atau memahami konsep yang lebih rendah. Berdasarkan hal tersebut mengakibatkan pembelajaran berkembang dari yang mudah ke yang sukar, sehingga dalam memberikan contoh guru juga harus memperhatikan tentang tingkat kesukaran dari materi yang disampaikan, dengan demikian dalam pembelajaran matematika contoh-contoh yang diberikan harus bervariasi dan tidak cukup hanya satu contoh.
Disamping itu pembelajaran matematika hendaknya bermakna, yaitu pembelajaran yang mengutamakan pengertian atau pemahaman konsep dan penerapannya dalam kehidupan. Agar suatu kegiatan belajar mengajar menjadi suatu pembelajaran yang bermakna maka kegiatan belajar mengajar harus bertumpu pada cara belajar siswa aktif (CBSA). Menurut Chickering dan Gamson (Bonwell dan Eison, 1991:1) dalam belajar aktif siswa harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mendengarkan, untuk bisa terlibat aktif para siswa itu harus terlibat dalam tugas yang perlu pemikiran tingkat tinggi seperti tugas analisis, sintesis, dan evaluasi. Oleh karena itu dalam rangka mewujudkan CBSA guru harus berusaha mencari metode mengajar yang dapat menyebabkan siswa aktif belajar.
Pembelajaran matematika hendaknya menganut kebenaran konsistensi yang didasarkan kepada kebenaran-kebnaran terdahulu yang telah diterima, atau setiap struktur dalam matematika tidak boleh terdapat kontradiksi. Matematika sebagai ilmu yang deduktif aksiomatis, dimana dalil-dalil atau prinsip-prinsip harus dibuktikan secara deduktif. Tetapi mengingat kemampuan berpikir siswa, penerapan pola deduktif tidak dilakukan secara ketat. Hal itu sesuai dengan yang dikemukakan oleh Soedjadi (1995:1) bahwa struktur sajian matematika tidak harus menggunakan pola pikir deduktif semata, tetapi dapat juga digunakan pola pikir induktif.  
A.    Pengertian Matematika Sekolah
Matematika sekolah Erman Suherman (1993:134) mengemukakan bahwa matematika sekolah merupakan bagian matematika yang diberikan untuk dipelajari oleh siswa sekolah (formal), yaitu SD, SLTP, dan SLTA. Menurut Soedjadi (1995:1) matematika sekolah adalah bagian atau unsur dari matematika yang dipilih antara lain dengan pertimbangan atau berorentasi pada pendidikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa matematika sekolah adalah matematika yang telah dipilah-pilah dan disesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa, serta digunakan sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi para siswa.
Matematika sebagai ilmu dasar telah berkembang dengan amat pesat baik dari segi materi maupun kegunaannya,sehingga dalam perkembangannya atau pembelajaran disekolah kita harus memperhatikan perkembangan-perkembangannya,baik dimasa lalu,masa sekarang atapun masa yang akan datang.
Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar(SD) dan Pendidikan Menengah (SMP,SMA/SMK).Matematika sekolah terdiri dari bagian-bagian matematika yang dipilih untuk menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan yang membentuk pribadi serta berpadu pada perkembangan IPTEK.Hal ini menunjukkan bahwa matematika sekolah tetap  memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika,yaitu memiliki objek kejadian yang abstrak serta berpola pikir deduktif konsisten.
B.     Fungsi Matematika Sekolah
Fungsi matematika sekolah menurut (Suherman, dkk., 2003:55):
1)      Alat
Melalui matematika siswa dapat memahami dan menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan, atau tabel-tabel dalam model matematika.
2)      Pola Pikir
Belajar matematika merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian. Pola pikir yang dikembangkan adalah pola pikir deduktif dan induktif.
3)      Ilmu
Matematika selalu mencari kebenaran dan bersedia meralat kebenaran yang sementara diterima, bila ditemukan penemuan baru sepanjang mengikuti pola pikir yang sah.
C.     Tujuan Pembelajaran Matematika
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.  Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
2.  Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3.  Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4.  Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5.  Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

D.    Peran Matematika Sekolah
Adapun peran Matematika Sekolah yaitu :
1.      Untuk mempersiapkan anak ddik agar sanggup menghadapi perubahan-perubahan keadaan di dalam kehidupan dunia yang senantiasa berubah, mealui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis dan rasional, kritis dan cermat, objektif, kreati, efektif dan diperhitungkan secara analisis sintesis.
2.      Untuk mempersipkan anak didik agar menggunakan matematika secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam menghadapi ilmu pengetahuan
E.     Faktor-faktor yang mempengaruhi Sekolah
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pembelajaran matematika sekolah,diantaranya:
a)      Peserta didik
Kegagalan atau keberhasilan dalam proses pembelajaran yang terjadi pada peserta didik,tidak sepenuhnya berada ditangan guru.Tapi masih ada faktor yang muncul dari peserta didik tersebut.Misalnya saja,bagaimana kemampuan dan kesiapan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.Bagaimana sikap dan minat peserta didik terhadap  matematika,kemudian bagaiman pula kondisi fisiologinya dan juga kondisi psikologinya.Selain itu intelegensi juga berpengaruh terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik.
b)      Prasarana dan sarana
Prasarana yang mapan seperti ruangan seperti ruangan yang sejuk dan bersih dengan tempat duduk yang nyaman biasanya lebih memperlancar terjadinya proses pembelajaran.Demikian pula sarana yang lengkap dengan adanya buku teks dan alat bantu belajar akan merupakan fasilitas belajar yang penting.Penyediaan sumber belajar yang lain,seperti majalah tentang pengajaran matematika,laboratorium matematika dan lain-lain akan meningkatkan kualitas dalm proses pembelajaran peserta didik.
c)      Pengajar
Pengajar melaksanakan proses mengajaar sehingga proses belajar diharapkan dapat berlangsung efektif.Kemampuan pengajar dalam  menyampaikan matematika dan menguasai materi yang diajarkan sangat mempengaaruhi terjadinya proses belajar.Kepribadian,pengalaman dan motivasi pengajar dalam mengajar juga mempengaruhi dalam efektivitasnya proses belajar.
Penguasaan materi matematika dan cara penyampaiannya merupakan syarat yang tidak dapt ditawar lagi bagi pengajar matematika.seorang pengajar matematika yang tidak menguasai materi matematika yang akan diajarkan,tidak mungkin ia dapat mengajar matematika dengan baik.Demiian juga dengan pengajar yang tidak menguasai berbagai cara penyampaian,ia hanya mengejar terselesaikannya bahan yang diajarkan tanpa memperhatikan kemampuan dan kesiapan peserta didik.
II.2.                      Strategi Pembelajaran Matematika
Seorang pemain catur harus memperhitungkan setiap posisi buah catur miliknya dan milik lawannya, terutama yang berkait dengan kelemahan dan keunggulan setiap buah catur tersebut. Berdasar hasil analisis itulah, sang pemain dapat menentukan strategi yang dapat digunakan untuk memenangkan pertarungan dimaksud, yang berupa rancangan atau rencana tindakannya. Oleh karena itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Depdiknas, 2002) menyatakan bahwa strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Dengan demikian, strategi pembelajaran dapat pula disebut sebagai cara yang sistematik dalam mengomunikasikan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dari beberapa pendapat pakar, Supinah (2008) menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran adalah perpaduan dari:
a.    Urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pelajaran, dan siswa;
b.    Metode atau teknik pembelajaran;
c.    Media pembelajaran yaitu berupa peralatan dan bahan pembelajaran;
d.   Waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Dapat juga dikatakan, strategi pembelajaran adalah cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar.
Komponen strategi pembelajaran:
·         Kegiatan pembelajaran pendahuluan
Kegiatan pembelajaran pendahuluan memegang peranan penting dari suatu sistem pembelajaran secara keseluruhan.Pada bagian ini diharapkan guru mampu menarik minat peserta didik  atas materi pelajaran ang akan disampaikan.Hal ini dilakukan agar dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Cara guru memperkenalkan materi pelajaran melalui contoh-contoh ilustrasi tentang kehidupan sehari-hari atau guru meyakinkan apa manfaat mempelajari pokok bahasan tertentu akan sangat mempengaruhi motivasi belajar peserta didik.
Secara spesifik,kegiatan pembelajaran pendahuluan dapat dilakukan dengan teknik:
§  Jelaskan tujuan khusus yang diharapkan dapat dicapai oleh semua peserta didik diakhir kegiatan pembelajaran.Denag demikian peserta didik akan menadari pengetahuan,keterampilan,sekaligus manfaat yang akan diperoleh setelah mepelajari bahasan tersebut.
§  Lakukan apersepsi,berupa kegiatan ang merupakan jembatan antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru yanga akan dipelajari.Tunjukkan pada mereka eratnya hubungan antar pengetahuan yang telah mereka miliki dengan pengetahuan yang akan mereka pelajari.
·         Penyampaian Informasi
Penampaian informasi ini dianggap sangat penting dalam proses pembelajaran,padahal bagian ini merupakan salah satu komponen strategi pembelajaran.Penyampaian informasi tidak akan berarti apa-apa,apabila tidak melakukan kegiatan pembelajaran pendahuluan.Dalam hal ini guru harus memahami kondisi dan situasi yang dihadapinya.Dengan demikian informasi ang diberikan akan diserap oleh peserta didik dengan baik.
Beberapa hal ang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi:
§  Urutan penyampaian
Urutan penampaian materi harus menggunakan pola yang tepat.Urutan materi ang diberikan berdasarkan tahapan berfikir dari hal yang bersifat konkret ke hal ang bersifat abstrak atau dari hal ang sederhana/mudah dilakukan ke hal ang lebih kompleks/sulit dilakukan.Selain itu,juga perlu diperhatikan apakah suatu materi harus disampaikan secara berurutan atau dibolak balik,misalnya dari praktek ke teori atau dari teori ke praktek.Urutan penyamapain informasi yang sisematis akan memudahkan peserta didik cepat memahami apa yang disampaikan guru.
§  Ruang lingkup materi yang disampaikan
Besar kecilnya materi yang disampaikan atau ruang lingkup materi sangat bergantung pada karakteristik peserta didik dan jenis materi yang dipelajari.Umumnya ruang lingkup sudah tergambar pada saat penentuan tujuan pembelajaran.
§  Materi yang akan disampaikan
Materi pelajarn umumnya merupakan gabungan antar jenis metri yang berbentuk pengetahuan(fakta dan informasi yang terperinci),Keterampilan(langkah-langkah,prosedu,keadaan dan syarat-syarat tertentu),dan sikap(berisi pendapat,ide,saran atau tanggapan)(Kemp,1997).
Dalam menentukan strategi pembelajaran guru harus terlebih dahulu memahami jenis materi yang akan disampaikan agar dipeoleh strategi pembelajaran yang sesuai.
·         Partisipasi peserta didik
Berdasarkan prinsip student center,peserta didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar.Hal ini dikenal dengan istila CBSA(Cara Belajar Siswa Aktif)yang maknanya bahwa proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan secara langsungdan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan(Dick dan Carey,1978:108).
Beberapa hal penting yang berhubungan dengan partisipasi peserta didik:
§  Latihan dan Praktik seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberikan informasi tentang suatu pengetahuan,sikap,ateu ketrampilan tertentu,agar materi tersebut benar-benar terinternalisasikan.
§  Umpan balik
Melalui umpan balik yang diberikan oleh guru,peserta didik akan segera mengetahui apakah jawaban yang merupakan kegiatan yang mereka lakukan benar/salah,tepat/tidak tepat atau ada sesuatu yang diperbaiki.Upan balik dapat berupa penguatan positif dan penguatan negatif.Melalui penguatan positif diharapkan perilaku tersebut akan terus dipelihara atau ditunjukkan oleh peserta didik.Sebaliknya,melalui umpan negatif diharapkan perilaku tersebut akan dihilangkan atau peserta didik tidak akn melakukan kesalahan serupa.
·         Tes
Serangkaian tes umum yang digunakan oleh guru untuk mengetahui:
§  Apakah tujuan pembelajatan khusus telah tercapai atau belum
§  Apakah pengetahuan sikap dan keterampilan telah benar-benar dimiliki oleh peserta didik atau belum.
Pelaksanaan tes biasanay dilakukan diakhir kegiatan pembelajaran setelah peserta didik melalui proses pembelajaran,penyampaian informasi berupa materi pelajaran.Pelaksanaan tes juga dilakukan setelah peserta didik melakukan latihan atau praktik.
·         Kegiatan Lanjutan
Dalam setiap kali setelah tes dilakukan selalu saja terdapat peserta didik yang berhasil dengan bagus atau diatas arat-rata.Padahal hanya menguasai materi sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan dapat dicapai.Dan peserta didik seharusnya menerima tindak lanjut yang berbeda sebagai konsekuensi dari hasil belajar yang bervariasi tersebut.
II.3.                      Karakteristik Peserta Didik.
A.  Karakteristik peserta didik berdasarkan usia serta model pembelajarannya
1.    Karakteristik peserta didik usia Sekolah Dasar (SD).Karakteristik anak usia SD diantaranya adalah
a.    senang bermain
b.   senang bergerak
c.    senang bekerja dalam kelompok 
d.   senang merasakan/melakukan sesuatu secara langsung.
Oleh karena itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung unsur permainan, memungkinkan siswa berpindah atau bergerak dan bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.
Menurut Havighurst tugas perkembangan anak usia SD adalah sebagai berikut:
a.    menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik,
b.    membina hidup sehat,
c.    belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok,
d.   belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin
e.    belajar membaca, menulis, dan menghitung agar mampu berpartisipasi dalam masyarakat,
f.     memperoleh sejumlah konsep yang diperlukan untuk berpikir efektif,
g.    mengembangkan kata hati, moral, dan nilai-nilai
h.    mencapai kemandirian pribadi.
i.      Tugas perkembangan tersebut menurut guru untuk:
j.      Menciptkaan lingkungan teman sebaya yang mengajarkan keterampilan fisik,
k.    Melaksanakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bergaul dan bekerja dengan teman sebaya sehingga kepribadian sosialnya berkembang,
l.      Mengembangkan kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman yang konkret atau langsung dalam membangun konsep; serta
m.  Melaksanakan pembelajaran yang dapat mengembangkan nilai-nilai sehingga siswa mampu menentukan pilihan yang stabil dan menjadi pegangan bagi dirinya.

2.    Karakteristik peserta didik usia Sekolah Menengah.
Pendidikan Bagi Anak Usia Sekolah Menengah  Karakteristik yang menonjol pada anak usia sekolah menengah adalah sebagai berikut.
a.         Adanya kekurangseimbangan proporsi tinggi dan berat badan.
b.        Mulai timbulnya ciri-ciri sekunder.
c.         Timbulnya keinginan untuk mempelajari dan menggunakan bahasa asing.
d.        Kecenderungan ambivalensi antara keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul dengan orang banyak serta antara keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua.
e.         Senang membandingkan kaidah-kaidah, nilai-nilai etika, atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa.
f.         Mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi (keberadaan) dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan.
g.        Reaksi dan ekspresi emosi masih labil.
h.        Kepribadiannya sudah menunjukkan pola tetapi belum terpadu.
i.          Kecenderungan minat dan pilihan karier sudah relatif lebih jelas.
Ø  Karakteristik tersebut menuntut guru untuk:
1.        Menyalurkan hobi dan minat siswa melalui kegiatan-kegiatan yang positif;
2.        Menerapkan pendekatan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual atau kelompok kecil;
3.         Meningkatkan kerja sama dengan orang tua dan masyarakat untuk mengembangkan potensi siswa;
4.        Menjadi teladan atau contoh, serta
5.        Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bertanggung jawab.


3.    Karakteristik  Orang Dewasa 
       . Usia 21 tahun dipandang sebagai batas dewasa awal sehingga mereka telah dianggap mempunyai tanggung jawab terhadap segala perbuatannya. Penurunan kemampuan fisik menuntut penyelenggaraan pendidikan yang menggunakan berbagai media yang mampu memperkuat kelemahan fisik orang dewasa
Selama masa dewasa, dunia social dan peranan social menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa sebelumnya. Pada masa ini individu memasuki peranan kehidupannya yang lebih luas. Pola dan tingkah laku orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan dengan masalah penuaan, tetapi lebih disebabkan oleh peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan.
Menurut Knowles, dalam merancang kegiatan pembelajaran bagi orang dewasa hendaknya memperhatikan:
1. Konsep diri,
2. Pengalaman,
3. Kesiapan untuk belajar, dan
4. Orientasi kegiatan belajar orang dewasa.
       Dengan memperhatikan perbedaan orang dewasa dengan anak-anak, pembelajaran yang cocok bagi orang dewasa adalah pembelajaran yang menerapkan:
1. Metode penemuan sendiri (discovery method),
2. Belajar pemecahan masalah, dan
3. Belajar konsep.
Di samping ketiga model belajar tersebut, model pendidikan yang tepat bagi orang dewasa adalah model pendidikan yang memadukan antara pendidikan formal dengan pendidikan luar sekolah. Ciri khas pendidikan orang dewasa adalah fleksibel dalam pelaksanaannya.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar